Isra’ dan Mi’raj: Perjalanan Luar Biasa Nabi Muhammad SAW ke Langit
Di antara peristiwa paling luar biasa dalam sejarah kenabian adalah Isra’ dan Mi’raj, sebuah perjalanan spiritual yang hanya bisa terjadi dengan kehendak dan kuasa Allah. Perjalanan ini menjadi penghibur di tengah masa duka, sekaligus peneguh hati bagi Nabi Muhammad dan umat Islam hingga hari ini.
Latar Belakang: Tahun Kesedihan
Setahun sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah mengalami tahun duka (‘aam al-huzn). Dalam waktu singkat, beliau kehilangan dua orang tercinta yang menjadi pilar perjuangannya: Khadijah (istri setia) dan Abu Thalib (paman pelindung). Selain itu, dakwah beliau di Taif ditolak dengan sangat kasar.
Di tengah kesedihan dan tekanan itu, Allah memberi hiburan istimewa: mengundang Nabi-Nya melakukan perjalanan melintasi bumi dan menembus langit, yang dikenal sebagai Isra’ dan Mi’raj.
Isra’: Perjalanan Malam dari Mekkah ke Al-Aqsa
Pada suatu malam, Nabi Muhammad dijemput oleh malaikat Jibril dan dibawa menunggangi Buraq, hewan tunggangan yang sangat cepat. Perjalanan dari Masjidil Haram (Mekkah) menuju Masjidil Aqsa (Palestina) pun dimulai.
Sesampainya di Masjidil Aqsa, Nabi sholat bersama para nabi terdahulu—Nabi Ibrahim, Musa, Isa, dan lainnya—dalam sebuah pertemuan agung yang menunjukkan bahwa beliau adalah imam para nabi dan pemimpin risalah terakhir.
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa...”📖 QS. Al-Isra’: 1
Mi’raj: Naik ke Langit Menembus Dimensi Ilahi
Dari Masjidil Aqsa, Rasulullah dibawa naik ke langit dalam peristiwa Mi’raj. Beliau melewati tujuh lapis langit, dan pada setiap lapisan bertemu dengan para nabi:
-
Langit pertama: Nabi Adam
-
Kedua: Nabi Isa dan Yahya
-
Ketiga: Nabi Yusuf
-
Keempat: Nabi Idris
-
Kelima: Nabi Harun
-
Keenam: Nabi Musa
-
Ketujuh: Nabi Ibrahim
Setelah itu, beliau dibawa ke Sidratul Muntaha, batas pengetahuan seluruh makhluk. Di sanalah beliau menerima perintah sholat lima waktu secara langsung dari Allah tanpa perantara malaikat—sebuah kehormatan yang luar biasa.
Perintah Sholat: Hadiah dari Langit
Awalnya, sholat diwajibkan 50 kali sehari. Namun setelah berdialog dengan Nabi Musa, yang menyarankan agar meminta keringanan karena umat tidak akan mampu, Rasulullah pun kembali memohon kepada Allah. Akhirnya, sholat dikurangi menjadi lima waktu, namun tetap diberi pahala seperti 50.
“Sesungguhnya sholat adalah hadiah terbesar dari Mi’raj, dan ia adalah tiang agama.”
Kembali ke Mekkah: Ujian Keimanan
Setelah kembali ke bumi, Nabi menceritakan peristiwa ini kepada kaum Quraisy. Sebagian besar mengejek dan menganggap beliau gila. Namun ada satu sahabat yang langsung percaya tanpa ragu: Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang sejak saat itu diberi gelar “Ash-Shiddiq” (yang membenarkan).
Isra’ Mi’raj pun menjadi ujian keimanan: siapa yang benar-benar percaya pada Allah dan Rasul-Nya, dan siapa yang hanya mengikuti logika manusia.
Hikmah dan Pelajaran dari Isra’ Mi’raj
-
Sholat adalah hadiah agung: bukan beban, tapi anugerah langsung dari Allah.
-
Kedekatan dengan Allah bisa terjadi dalam kondisi paling sulit, asalkan hati tetap bersandar pada-Nya.
-
Keimanan sejati diuji ketika hal-hal ghaib disampaikan—seperti perjalanan ke langit.
-
Masjidil Aqsa adalah tempat suci dalam Islam, penghubung antara para nabi dan umat Islam saat ini.
Penutup
Isra’ dan Mi’raj bukan hanya kisah spektakuler, tapi juga penguat akidah, pengingat pentingnya sholat, dan bukti bahwa pertolongan Allah selalu dekat, bahkan di saat manusia merasa paling terpuruk. Mari kita peringati peristiwa agung ini dengan memperkuat hubungan kita dengan Allah melalui sholat, dzikir, dan keyakinan yang kokoh.
“Sholat adalah Mi’raj-nya orang mukmin.”(Hadis riwayat Anas bin Malik)
Komentar
Posting Komentar