Nabi Shalih AS: Kaum Tsamud dan Unta Mukjizat yang Dilupakan

Nabi Shalih AS diutus oleh Allah SWT kepada kaum Tsamud, sebuah kaum yang terkenal sangat maju pada masanya. Mereka ahli memahat gunung menjadi rumah megah, hidup makmur di lembah subur antara Madinah dan Syam. Kaum Tsamud adalah keturunan kaum ‘Aad yang telah dibinasakan sebelumnya, namun mereka mengulangi kesalahan yang sama: menyembah berhala dan menolak tauhid.

Nabi Shalih AS lahir di tengah kaum Tsamud, dikenal bijak, berbudi luhur, dan sangat dipercaya. Suatu ketika Allah mengangkatnya menjadi nabi, memerintahkannya untuk mengajak kaumnya meninggalkan berhala dan menyembah Allah Yang Esa.

Beliau berkata:
“Hai kaumku! Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Sungguh telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu: unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu…”
(QS. Al-A’raf: 73)

Kaum Tsamud menuntut mukjizat: jika Shalih benar-benar nabi, mereka menantang agar dia mengeluarkan seekor unta betina yang keluar langsung dari batu besar. Dengan izin Allah, Nabi Shalih berdoa — lalu terbelahlah batu besar, keluarlah seekor unta betina mukjizat yang tinggi, besar, dan berbeda dari unta biasa.

Nabi Shalih mengingatkan: unta ini adalah tanda kebesaran Allah. Jangan diganggu. Biarkan dia makan di padang rumput dan minum di sumur bergiliran dengan ternak mereka.

Namun, sebagian besar kaum Tsamud tetap membangkang. Mereka melihat unta itu bukan sebagai bukti kekuasaan Allah, tetapi ancaman bagi kekayaan mereka. Akhirnya, mereka bersekongkol. Sejumlah orang durhaka, dipimpin oleh Qidar bin Salif, membunuh unta mukjizat itu secara keji.

Nabi Shalih pun bersedih dan marah. Beliau berkata:
“Bersukarialah kamu di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.”
(QS. Hud: 65)

Kaum Tsamud tetap mengejek dan merencanakan membunuh Nabi Shalih juga. Namun Allah membalas rencana jahat mereka. Pada hari ketiga, azab turun: bumi berguncang hebat, petir menggelegar, dan suara mengerikan menghancurkan mereka seketika. Tubuh mereka kaku seperti batang pohon tumbang di dalam rumah pahatan mereka yang megah.

Hanya Nabi Shalih dan orang-orang yang beriman yang diselamatkan Allah SWT. Nabi Shalih meninggalkan kaumnya dan hidup di tempat lain sampai wafat.

Hikmah:
Dari Nabi Shalih AS, kita belajar bahwa kesombongan menutupi hati dari kebenaran. Kaum Tsamud melihat tanda kebesaran Allah dengan mata kepala sendiri, tetapi tetap membunuh mukjizat itu karena ego, rasa takut kehilangan kekuasaan, dan cinta dunia.

Mukjizat bukanlah apa-apa kalau hati tertutup. Allah SWT bisa membinasakan manusia sehebat apa pun jika mereka ingkar dan berbuat kerusakan.

Semoga kita menjadi umat yang tunduk pada tanda-tanda kebesaran Allah, tidak sombong pada nikmat dunia, dan selalu menjaga amanah-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Raqib & Atid — Malaikat Pencatat Amal Baik dan Buruk

Sa’ad bin Mu’adz: Pemimpin Anshar yang Getarkan Arsy

Struktur Al-Qur’an: Tertib, Sempurna, dan Penuh Hikmah