Isra’ Mi’raj: Perjalanan Malam ke Baitul Maqdis dan Langit
Di antara peristiwa terbesar dan penuh mukjizat dalam hidup Nabi Muhammad ﷺ adalah peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Mukjizat ini terjadi pada masa Nabi ﷺ mengalami ujian yang berat, yaitu setelah wafatnya paman beliau Abu Thalib dan istri tercinta beliau, Khadijah binti Khuwailid رضي الله عنها. Tahun ini dikenal sebagai ‘Aam al-Huzn (Tahun Kesedihan).
Sebagai penghibur hati Rasulullah ﷺ dan penguat iman beliau, Allah ﷻ memuliakan beliau dengan perjalanan agung: Isra’ Mi’raj.
🌙 Isra’: Perjalanan Malam ke Baitul Maqdis
Pada suatu malam, Nabi Muhammad ﷺ sedang berada di dekat Ka'bah. Malaikat Jibril عليه السلام datang membawa Buraq, hewan tunggangan putih yang lebih besar dari keledai, tetapi lebih kecil dari bagal, yang berlari secepat kilat.
Dengan izin Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ menunggangi Buraq dan melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis (Yerusalem). Di sana, Rasulullah ﷺ memimpin shalat bersama para nabi terdahulu: Ibrahim, Musa, Isa, dan lainnya sebagai makmum. Ini menegaskan kemuliaan beliau sebagai penutup para nabi.
☁️ Mi’raj: Perjalanan Naik ke Langit
Setelah Isra’, Rasulullah ﷺ dibawa Jibril naik ke langit (Mi’raj) melewati tujuh lapis langit. Di setiap lapisan langit, beliau bertemu para nabi terdahulu:
-
Di langit pertama: bertemu Nabi Adam عليه السلام
-
Di langit kedua: bertemu Nabi Isa عليه السلام dan Nabi Yahya عليه السلام
-
Di langit ketiga: bertemu Nabi Yusuf عليه السلام
-
Di langit keempat: bertemu Nabi Idris عليه السلام
-
Di langit kelima: bertemu Nabi Harun عليه السلام
-
Di langit keenam: bertemu Nabi Musa عليه السلام
-
Di langit ketujuh: bertemu Nabi Ibrahim عليه السلام, yang bersandar di Baitul Ma’mur — tempat ibadah malaikat di langit.
Setelah itu, Rasulullah ﷺ mencapai Sidratul Muntaha, tempat tertinggi yang tidak pernah dicapai makhluk mana pun. Di sana, Allah ﷻ berbicara langsung dengan beliau tanpa perantara. Di sanalah Allah ﷻ memerintahkan shalat lima waktu, yang awalnya diwajibkan lima puluh kali sehari. Namun atas permintaan Nabi Musa عليه السلام yang menyarankan agar meminta keringanan, Allah ﷻ pun meringankan menjadi lima waktu, namun tetap bernilai lima puluh kali lipat pahala.
🕊️ Kembali ke Makkah
Setelah perjalanan luar biasa itu, Rasulullah ﷺ kembali ke Makkah pada malam yang sama. Esok harinya, beliau menceritakan peristiwa ini kepada kaum Quraisy. Banyak yang mencemooh dan tidak percaya, karena perjalanan Makkah ke Baitul Maqdis saja memakan waktu berhari-hari di masa itu.
Namun, Abu Bakar As-Siddiq رضي الله عنه berdiri membenarkan Nabi ﷺ tanpa ragu. Sejak saat itu, beliau mendapat gelar As-Siddiq (yang membenarkan).
🌙 Hikmah Isra’ Mi’raj
Isra’ Mi’raj bukan hanya perjalanan agung Rasulullah ﷺ, tetapi juga pengingat bahwa shalat adalah tiang agama dan penghubung antara hamba dengan Tuhannya.
Semoga kita selalu menjaga shalat lima waktu dengan penuh cinta dan ketaatan, sebagaimana Rasulullah ﷺ terima langsung dari Allah ﷻ di malam Isra’ Mi’raj.
Komentar
Posting Komentar