Perang Mu’tah adalah pertempuran pertama kaum Muslimin melawan kekuatan besar di luar Jazirah Arab, yaitu Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) dan sekutu Arab mereka, Ghassan.
🔹 Latar Belakang:
Perang ini bermula ketika Rasulullah ﷺ mengirim utusan bernama Al-Harits bin Umair Al-Azdi untuk menyampaikan surat dakwah Islam kepada penguasa Busra (wilayah Syam). Namun, utusan ini dibunuh oleh Syurahbil bin ‘Amr Al-Ghassani — gubernur bawahan Romawi, padahal utusan diplomatik wajib dilindungi menurut tradisi Arab.
Sebagai balasan atas pembunuhan utusan, Rasulullah ﷺ menyiapkan pasukan sekitar 3.000 orang, dipimpin oleh tiga panglima secara berurutan:
1️⃣ Zaid bin Haritsah
2️⃣ Ja’far bin Abi Thalib
3️⃣ Abdullah bin Rawahah
— Jika satu gugur, yang lain memimpin.
🔹 Jalannya Perang:
Pasukan Muslim berhadapan dengan pasukan Bizantium dan sekutu Arab Ghassan di Mu’tah (sekarang Yordania). Lawan diperkirakan puluhan ribu prajurit — jumlah yang jauh lebih besar daripada pasukan Muslim.
Dalam pertempuran sengit itu, ketiga panglima Muslim gugur syahid. Lalu bendera pasukan dipegang oleh Khalid bin Al-Walid, yang ditunjuk oleh pasukan di medan perang. Dengan kecerdikannya, Khalid berhasil menyusun taktik mundur teratur agar pasukan Muslimin tidak habis. Karena kehebatannya, Rasulullah ﷺ kemudian memberinya gelar “Pedang Allah” (Saifullah Al-Maslul).
🔹 Hasil:
Walau pasukan Muslim tidak memenangkan wilayah, Perang Mu’tah menunjukkan keberanian kaum Muslimin menghadapi imperium besar. Ini juga membuka mata Bizantium bahwa umat Islam bukan lagi kekuatan kecil di jazirah.
Pelajaran:
Perang Mu’tah mengajarkan keberanian, pengorbanan, kepemimpinan, serta pentingnya strategi dalam kondisi sulit. Tiga panglima gugur syahid dengan terhormat, dan Khalid bin Al-Walid tampil sebagai tokoh militer besar Islam.
Komentar
Posting Komentar