Pembangunan Kembali Ka'bah dan Peletakan Hajar Aswad

Di antara peristiwa penting sebelum Nabi Muhammad ﷺ diangkat menjadi Rasul adalah pembangunan kembali Ka'bah dan peletakan Hajar Aswad. Kisah ini menegaskan kebijaksanaan dan kehormatan Rasulullah ﷺ di hadapan kaumnya.

Saat itu, penduduk Quraisy bersepakat untuk merenovasi Ka'bah karena bangunannya sudah rapuh akibat banjir besar. Mereka membongkar bagian Ka'bah yang rusak dan membangunnya kembali dengan bahan yang lebih kokoh. Masing-masing kabilah Quraisy ikut ambil bagian dalam pembangunan ini.

Ketika pembangunan hampir selesai, tibalah saatnya untuk meletakkan Hajar Aswad — batu hitam mulia yang menjadi bagian dari rukun Ka'bah. Perselisihan pun muncul. Masing-masing kabilah merasa paling berhak mendapat kehormatan meletakkan Hajar Aswad. Perselisihan ini hampir memicu peperangan di antara mereka.

Dalam keadaan genting itu, salah seorang tokoh Quraisy mengusulkan jalan damai: siapa pun yang pertama kali masuk Masjidil Haram saat itu, dialah yang akan menjadi penengah. Dengan izin Allah ﷻ, yang pertama kali masuk adalah Muhammad bin Abdullah, yang saat itu berusia sekitar 35 tahun. Semua orang pun berseru, "Itu Al-Amin! Kita ridha dia yang memutuskan!"

Dengan penuh kebijaksanaan, Muhammad ﷺ meminta selembar kain. Beliau meletakkan Hajar Aswad di tengah kain tersebut, kemudian meminta para pemuka suku Quraisy masing-masing memegang ujung kain. Bersama-sama, mereka mengangkat batu itu ke dekat sudut Ka'bah. Setelah itu, Rasulullah ﷺ sendiri yang mengambil batu itu dengan tangannya yang mulia dan meletakkannya di tempat semestinya.

Maka berakhirlah perselisihan dengan damai. Semua kabilah merasa terhormat, dan peristiwa ini semakin mengukuhkan gelar Al-Amin (yang terpercaya) bagi Muhammad ﷺ.


🌙 Hikmah Kisah Peletakan Hajar Aswad

✨ Kisah ini menunjukkan kebijaksanaan, keadilan, dan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad ﷺ, bahkan sebelum diangkat menjadi Rasul.
✨ Allah ﷻ mempersiapkan beliau sebagai penengah dan pemersatu umat.
✨ Dari kisah ini, kita belajar bahwa seorang pemimpin harus adil, bijak, dan mampu meredam konflik dengan cara yang baik.


Demikianlah kisah peletakan Hajar Aswad yang menjadi salah satu bukti bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah pemimpin yang dihormati karena akhlaknya, bukan karena kekuasaan atau harta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Raqib & Atid — Malaikat Pencatat Amal Baik dan Buruk

Sa’ad bin Mu’adz: Pemimpin Anshar yang Getarkan Arsy

Struktur Al-Qur’an: Tertib, Sempurna, dan Penuh Hikmah