Peristiwa Pembelahan Dada (Shaq-us-Sadr) Nabi Muhammad ﷺ

Di antara mukjizat dan tanda kebesaran Allah ﷻ yang diberikan kepada Nabi Muhammad ﷺ sejak kecil adalah peristiwa pembelahan dada, atau dalam bahasa Arab disebut Shaq-us-Sadr. Peristiwa ini terjadi ketika beliau masih berusia sekitar 4 tahun, saat tinggal bersama ibu susunya, Halimah As-Sa’diyah, di perkampungan Bani Sa’ad.

Suatu hari, Nabi Muhammad ﷺ kecil sedang bermain bersama saudara susunya, Abdullah bin Harits, di halaman belakang. Tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril dalam rupa seorang lelaki. Malaikat Jibril mendekat, lalu membaringkan Rasulullah ﷺ, membelah dada beliau, dan mengeluarkan segumpal darah hitam dari hati beliau.

Malaikat Jibril membersihkan hati Nabi Muhammad ﷺ dengan air zamzam, kemudian menutupnya kembali tanpa sedikit pun meninggalkan bekas luka atau rasa sakit. Malaikat Jibril berkata, “Inilah bagian syaitan darimu.” Dengan peristiwa ini, hati Rasulullah ﷺ menjadi suci dan terjaga dari bisikan setan.

Melihat kejadian tersebut, Abdullah bin Harits berlari ketakutan memberi tahu ibunya, Halimah. Mereka mendapati Muhammad ﷺ dalam keadaan tenang, meski wajah beliau tampak pucat. Halimah dan suaminya sangat khawatir, sehingga mereka memutuskan untuk mengembalikan Rasulullah ﷺ kepada ibundanya, Aminah binti Wahab, di Makkah.

Peristiwa pembelahan dada ini menegaskan bahwa sejak kecil, Nabi Muhammad ﷺ dijaga langsung oleh Allah ﷻ, disucikan lahir dan batin, agar siap menerima wahyu dan memikul risalah yang agung.


🌙 Hikmah Peristiwa Shaq-us-Sadr

Shaq-us-Sadr menjadi tanda bahwa Rasulullah ﷺ berbeda dengan manusia biasa — beliau dipersiapkan Allah untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin.
✨ Allah ﷻ menjaga kesucian hati dan akhlak Nabi Muhammad ﷺ sejak kecil, agar beliau terhindar dari sifat tercela.
✨ Kisah ini mengajarkan bahwa hati manusia perlu dibersihkan dari penyakit hati, seperti iri, dengki, atau keinginan buruk, agar selalu dekat dengan Allah ﷻ.

Semoga kita dapat meneladani kesucian hati Rasulullah ﷺ dengan senantiasa beristighfar, menjaga niat, dan membersihkan hati dari hal-hal yang mendatangkan dosa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Raqib & Atid — Malaikat Pencatat Amal Baik dan Buruk

Sa’ad bin Mu’adz: Pemimpin Anshar yang Getarkan Arsy

Struktur Al-Qur’an: Tertib, Sempurna, dan Penuh Hikmah