Turunnya Wahyu Pertama (Iqra’) Melalui Malaikat Jibril
Di usia 40 tahun, Nabi Muhammad ﷺ telah menjalani kehidupan yang penuh kejujuran, kesabaran, dan akhlak mulia. Beliau semakin sering bertahannuts — menyendiri di Gua Hira, Jabal Nur — untuk berzikir, merenung, dan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Saat itu, masyarakat Quraisy tenggelam dalam kegelapan jahiliyah, menyembah berhala, menindas yang lemah, dan mengabaikan ajaran tauhid.
Pada suatu malam di bulan Ramadhan, di Gua Hira yang sunyi, datanglah Malaikat Jibril membawa kabar agung dari Allah ﷻ. Malaikat Jibril mendekap Nabi Muhammad ﷺ seraya berkata, “Iqra’” — “Bacalah!”
Untuk ketiga kalinya, Malaikat Jibril mendekap Rasulullah ﷺ dengan penuh kekuatan, lalu membacakan wahyu pertama:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”(QS. Al-‘Alaq: 1)
Ayat ini menjadi pembuka bagi turunnya Al-Qur’an, petunjuk hidup bagi umat manusia sepanjang zaman.
Khadijah kemudian membawa Rasulullah ﷺ menemui Waraqah bin Naufal, sepupu Khadijah yang paham kitab Taurat dan Injil. Waraqah berkata, “Ini adalah Namus (Malaikat Jibril) yang dahulu juga turun kepada Musa. Sungguh, engkau adalah Nabi bagi umat ini.”
Sejak itulah, Nabi Muhammad ﷺ resmi menjadi utusan Allah ﷻ, membawa risalah tauhid untuk membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya iman.
🌙 Hikmah Kisah Turunnya Wahyu Pertama
Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai Al-Qur’an, mengamalkan perintahnya, dan senantiasa meneladani Rasulullah ﷺ dalam menebar rahmat ke seluruh alam.
Komentar
Posting Komentar