Pemboikotan Bani Hasyim oleh Quraisy
Setelah dakwah terang-terangan di Bukit Shafa, Nabi Muhammad ﷺ terus menyebarkan risalah tauhid tanpa mengenal lelah, meski menghadapi penentangan keras dari para pembesar Quraisy. Kaum Quraisy merasa kedudukan, bisnis, dan kepercayaan turun-temurun mereka terancam oleh seruan Islam.
Mereka mencoba berbagai cara untuk menghentikan dakwah Nabi ﷺ, mulai dari rayuan, ancaman, intimidasi, hingga penyiksaan terhadap para sahabat. Namun, semua usaha itu gagal mematahkan semangat Rasulullah ﷺ dan pengikutnya.
Akhirnya, kaum Quraisy sepakat melakukan tindakan keji: memboikot Bani Hasyim, kabilah tempat Rasulullah ﷺ berasal. Boikot ini bukan hanya untuk Nabi ﷺ dan para pengikutnya, tetapi juga seluruh anggota Bani Hasyim, baik yang Muslim maupun yang tetap berada dalam agama nenek moyang mereka.
Mereka menulis perjanjian boikot di atas lembaran kulit, lalu menggantungnya di dalam Ka'bah sebagai tanda sumpah yang “suci” menurut adat jahiliyah. Isi perjanjian tersebut:
-
Tidak boleh menikah dengan orang Bani Hasyim.
-
Tidak boleh berdagang dengan mereka.
-
Tidak boleh bergaul dan berbicara dengan mereka.
-
Tidak boleh memberi atau menerima bantuan apa pun.
Akibat boikot ini, Nabi ﷺ, keluarga beliau, dan para sahabat yang setia harus mengungsi ke Syi’ib Abu Thalib, sebuah celah sempit di antara bukit-bukit Makkah. Mereka hidup terasing, terkurung, dan kekurangan makanan serta keperluan hidup.
Tiga tahun lamanya mereka menahan lapar. Tangisan anak-anak Bani Hasyim yang kelaparan terdengar hingga ke jalan-jalan Makkah. Hanya beberapa orang Quraisy yang masih memiliki hati nurani, seperti Hisyam bin Amr dan Mut’im bin ‘Adi, yang diam-diam membantu mereka dengan membawa makanan secara sembunyi-sembunyi di malam hari.
🌙 Berakhirnya Pemboikotan
Allah ﷻ tidak membiarkan hamba-Nya terzalimi selamanya. Beberapa orang Quraisy yang berhati jernih mulai menyadari kekejaman perjanjian tersebut. Mereka berunding untuk mengakhiri boikot. Ketika Abu Thalib menemui Ka'bah dan memeriksa lembaran perjanjian, ternyata rayap telah memakan habis isi perjanjian itu, kecuali bagian yang tertulis “Bismikallahumma”.
Dengan izin Allah, boikot pun berakhir, dan Bani Hasyim kembali ke Makkah. Namun, ujian tidak berhenti di situ. Tidak lama kemudian, paman tercinta Abu Thalib wafat, disusul oleh istri tercinta beliau, Khadijah رضي الله عنها. Tahun itu dikenal sebagai ‘Aam al-Huzn — Tahun Kesedihan.
🌙 Hikmah Kisah Pemboikotan Bani Hasyim
Semoga kita dapat meneladani kesabaran Rasulullah ﷺ dan para sahabat dalam menghadapi ujian, serta senantiasa berdiri di pihak kebenaran.
Komentar
Posting Komentar